01 Maret 2021

Ya Nyumbang Tangis, Ya Nyumbang Kenangan Manis, Apalagi Kalau Bukan TOC Series

Online.

Ya, di masa pandemi ini semuanya serba online. 

Kuliah, yang awalnya ada pemberitahuan belajar di rumah selama 3 hari, diperpanjang menjadi 1 minggu, 1 bulan, berlanjut hingga waktu tak terhingga, sampai keadaan dikatakan membaik, sedangkan fakta menunjukkan tidak ada perbaikan keadaan, semua kasus meningkat dari hari ke hari, kabar akan kematian terus berdatangan, kabar akan jumlah pasien positif bertambah, kabar akan lockdown, kabar akan pembatasan segala jenis aktivitas, dan kabar kabar lainnya yang tentunya sangat ngeri dan melelahkan jika terus - terusan untuk disimak. 

Belum konflik akibat adanya pembatasan aktivitas tersebut, kampus di tutup, warung di tutup, wisata di tutup, semua jenis aktivitas dibatasi, yang biasanya bekerja jadi berhenti, yang biasanya memiliki penghasilan yang cukup jadi berkurang, yang biasanya bisa bebas berdiskusi di kelas, akhirnya harus memiliki paket data atau wifi terlebih dahulu hanya untuk bisa mendengarkan pelajaran di kelas. 

HP yang dulunya dibuka hanya ketika sedang membutuhkan suatu hiburan, saat ini menjadi alat wajib yang harus always on untuk membantu aktivitas sehari hari kita. Ada kerja kelompok, janjian bertemu di perpus, di gazebo, di warung kopi, di tempat makan, dikusi, ngerjain bersama, selesai. Tapi ini dulu. Sekarang ? Membuat grup WA, salah satu anggota kelompok menyapa untuk mengajak diskusi, anggota kelompok yang lain masih off karena sedang ada kesibukan lain, ketika kesibukannya telah usai, baru membalas, eh, anggota kelompok yang lain yang off. Huh.................... menjadi lama ? ya, pasti. Menjadi latihan sabar ? ya, pasti. Sempat merasa kesal ? ya, pasti, kita manusiawi. Pernah dihadapkan suatu keadaan yang mana keputusan harus segera dibuat, tapi anggota kelompok yang lain sama sekali tidak ada respon ? ya pernah. Bingung ? ya, jelas. Pernah terbesit mengambil keputusan sendiri tanpa persetujuan teman yang lain karena saking lamanya respon mereka ? ya, pernah. Apa endingnya dilakukan (mengambil keputusan sendiri ?) No, karena bagaimanapun juga ini adalah kelompok, yang hasil dari kerja kelompok tersebut akan menjadi pertanggungjawaban satu kelompok itu, jadi....... ya, sabar lagi, lagi, dan lagi, ehe

Kata sabar mungkin sebenernya udah jadi kata yang klise ya buat diucap dan di dengar, tapi asli, dimasa pandemi ini, ga boong, pembelajaran akan sabar bener bener relate. Termasuk dalam urusan organisasi. Intermezzo diatas terkait proses jalannya kerja kelompok, secara ga langsung hampir sama prosesnya kek jalannya organisasi di masa pandemi ini. Ya, sama persis. Dulu untuk bisa menentukan jenis kepanitiaan, rapat, janjian di wa, jam segini, di tempat ini, kumpul, ngobrol selesai. Di masa pandemi ? ya, hampir sama kek proses kerja kelompok tadi, hanya untuk menentukan, apakah bisa kumpul di hari ini, di jam ini, untuk meet bareng secara online, butuh waktu lama untuk mendapat conclution singkat tersebut. PC satu satu anggota, adalah termasuk salah satu upaya, agar conclution tersebut bisa segera didapat. Tapi ketika pc, ada yang off, centang, centang 2, auto read, auto respon grup, macem - macem responnya. Jadi, membuat deadline rencana di masa pandemi ini, khususnya untuk urusan organisasi, yang mana pengambilan keputusan harus dilakukan secara bersama, merencanakan dalam jangka waktu yang lama itu penting, sekali. Karena kita gabisa maksa orang lain untuk ketika kita chat, mereka wajib bales detik itu juga, ketika kita bertanya, kita gabisa maksa orang lain untuk wajib jawab detik itu juga. Pemakluman - pemakluman seperti itu it’s oke buat dijadikan suatu prinsip, karena ya kita paham, kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan seseorang dibalik media sosialnya, dibalik ia yang tidak sedang membuka hpnya, apa saja kesibukannya,  apa yang terjadi pada dirinya, kita ngga pernah tau tentang itu, tapi....................... ya................................ sekali lagi.............................. kita harus bener - bener memahami, bahwa yang namanya masuk dalam suatu organisasi, artinya ya kita berkomitmen untuk organisasi tersebut, hasil dari komitmen adalah tanggung jawab, bentuk dari tanggung jawab adalah aksi, aksi bisa dilakukan dalam bentuk perbuatan saling membantu anggota organisasi satu sama lain, saling merespon anggota organisasi satu sama lain, saling bertanya apa yang bisa dibantu, saling mengingatkan jika ada yang perlu untuk diperbaiki atau diluruskan, ya, perihal konsep ini, semuanya pasti memahami, ada yang bisa menjalankan dengan baik, ada yang kurang, bahkan ada yang tidak sama sekali. Sebagai CO apakah kita bisa memaksa setiap pihak memiliki atau memberikan respon dan kinerja yang sama ? nooo, respon dan kinerja orang lain bukanlah suatu hal yang bisa kita kendalikan, kalau ada yang memberikan respon baik, yaaa bahagia bersyukur alhamdulillah tentunya, jika ada yang berkebalikan, ya mari mengelus dada perlahan, menarik nafas dalam dalam, mengeluarkan perlahan...... hahhaa ! ga gitu juga ding, ya intinya itu tadi, sabar..... berusaha semaksimal mungkin untuk bisa kelola emosi bagaimana caranya kesalahpahaman bisa teratasi, kalau sudah berusaha dijelaskan masih saja terdapat salah paham ? ngalah, yaaa- dalam organisasi online ini, belajar ngalah adalah salah satu pelajaran berharga lain yang mungkin kelihatannya sepele, klise untuk di dengar, tapi belum tentu mudah untuk diterapkan, dan alhamdulillahnya, dari organisasi by online di masa pandemi ini, belajar sabar dan ngalah adalah termasuk pelajaran luar biasa yang bisa kita dapat, yang mungkin di dalam kelas pelajaran akan hal tersebut belum tentu kita dapatkan.

Pada intinya, dalam proses pembuatan acara ToC (Training of Counselor) secara online ini, yang memiliki 3 series secara beruntun, bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan, kesalahpahamanan ada begitu banyak, merasa kesal, marah, tangis, juga sempat terjadi. Tapi itu adalah bagian dari proses, kalau tidak mengalami itu, kita tidak mungkin belajar lebih dari arti kata sabar dan ngalah yang sesungguhnya. Di kelas kita mungkin pernah belajar, oh pengertian sabar adalah ini, pengertian ngalah adalah ini, sedangkan praktek langsung ? apakah kita benar - benar bisa menerapkan sesuai konsep definisi yang pernah kita pelajari ? Alhamdulillahnya manusia adalah makhluk yang oleh-Nya diberi kesempatan tidak hanya memiliki akal (otak saja) tapi juga memiliki hati nurani, jika kita hanya berpatok pada rasionalitas kinerja otak saja, semua orang akan menjadi keras, karena setiap orang memiliki kebenaran dengan versinya masing-masing, kita tidak memaksa kebenaran yang kita anut harus dianut oleh orang lain, kita juga tidak bisa menolak secara jebret, secara langsung, kebeneran yang dianut oleh orang lain yang menurut kita itu bukan suatu kebeneran, karena itu akan menyakiti hatinya. 

Nah, jika kita sudah mampu berfikir sampai pada tahap -bagaimana jika kalimat kita ini bisa sampai menyakiti atau menyinggung hati orang lain ?- maka secara tidak langung, hati nurani kita telah bekerja, yang otomatis akan melunakkan pikiran kita, kemudian mempengaruhi pola pikir kita, hingga pada akhirnya, menerima keyakinan kebenaran orang lain yang bukan termasuk keyakinan utama kita, bukan suatu hal yang berat lagi untuk dilakukan. Karena kita memahami, bahwa hubungan kemanusiaan kita dengan orang lain itu jauh lebih berharga daripada hanya menang berdebat terhadap suatu keyakinan, tapi menghancurkan sebuah hubungan. Statement ini mungkin akan menjadi banyak pro dan kontra dari banyak pihak yang mungkin nanti membacanya, tapi gapapa, percayalah, hidup damai, memilih untuk tidak berkonfrontasi langsung dengan orang lain, memilih diam dan mengalah dalam beberapa perdebatan sederhana, adalah hal yang melegakan dan mendamaikan. Ini adalah salah satu pelajaran manis, yang baru bisa saya dapat ketika mengikuti kepanitiaan ToC ini, pelajaran manis yang nantinya akan menjadi kenangan manis, karena dalam ToC tahun depan, belum tentu kita bisa berperan di dalamnya lagi, orangnya akan berbeda, panitianya akan berbeda, budayanya akan berbed, kondisinya ntah tetap online ataupun kembali offline, kitapun juga tidak perna tau kedepannya besok. 

Tapi sekali lagi, sesuai judul artikel ini, kenangan manis, meskipun menyumbang banyak tangis. Perihal arti kata tangis secara tersirat, tentunya sudah saya jabarkan di paragraf- parafgraf awal, tapi perihal -hal manis- akan saya jabarkan dalam penutup kali ini. 

Dear, mas, mbak, mantemen oasis gen 11 yang menjadi bagian dari kepanitiaan ToC, terimakasih-banyak, karena waktu, tenaga, ide, pikiran, semua telah kalian curahkan dengan sangat maksimal dalam acara ini, acara training secara online yang pertama kali dalam organisasi ini, semoga semoga dan semoga, masing masing pengalaman yang kita dapatkan di acara ini, bisa bermanfaat untuk kehidupan kita nanti-

Maaf, maaf dan maaf yang sebanyak banyaknya jika selama proses perjalanan, perencanaan, hinga pelaksanaan acara ini, masih banyak sekali terdapat kekurangan, dari hati yang terdalam, semoga dimaafkan-

Dan terakhir, untuk adek adek gen 12, teman teman bph, dan teman teman pengurus oasis yang lain, yang masih bersedia untuk ikut hadir, meramaikan, antusias, dan bantuan bantuan positif yang lain, kami mengucapkan benar - benar terimakasih banyak. 

Semoga harapan rata-rata adek adek gen 12 di awal masuk oasis ini, yang telah kami baca di google form yang kalian isi di awal pendaftaran dulu, yaitu ingin belajar lebih terkait konseling, semoga harapan tersebut bisa terwujud ya, melalui pemberian materi dan pelatihan di TOC Series Online tahun ini, sedikit atapun banyak ilmu yang sudah kalian dapatkan, semoga bisa jadi ilmu yang berkat dan bermanfaat ya untuk kalian di masa depan nanti 

See you, good luck untuk the next toc  !!!


Salam,
Galuh Dwi Prihartantin Mulyono

0 comments

Posting Komentar